Walau hitungan nada oleh Komisi Penentuan Umum (KPU) masih tetap berjalan, tetapi Team Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) Jawa Barat mengaku, pasangan Jokowi-Ma'ruf kalah di Propinsi Jawa barat. Ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Jawa barat Dedi Mulyadi mengatakan, merujuk di hasil kalkulasi cepat (quick count) beberapa instansi survey, termasuk juga quick count internalnya, pasangan capres-cawapres nomer urut 01 itu kalah atas pesaingnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Baca juga : Jurusan di GUNADARMA
Dedi menjelaskan, hasil quick count internalnya juga tidak jauh berlainan dengan hasil quick count beberapa instansi survey yang telah launching mass media nasional. Dedi mengatakan, quick count internalnya membuahkan data akhir Prabowo-Sandi mencapai nada seputar 60 % serta Jokowi-Ma'ruf 40 %.
"Saya yakin dengan cara yang dipakai instansi survey untuk quick count, 90 % wajar diakui," tegas Dedi waktu didapati di Hotel Novotel, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (18/4/2019).
Lebih, lanjut Dedi, berdasar pada pengalamannya waktu berkontestasi di Penentuan Gubernur (Pilgub) Jawa barat 2018, hasil quick count instansi survey tidak jauh berlainan dengan hasil perhitungan nada dengan manual yang dikerjakan KPU.
"Waktu saya dikatakan kalah di Pilgub Jawa barat berdasar pada quick count, saya langsung mengatakan selamat pada Ridwan Kamil (pemenang Pilgub Jawa barat 2018)," katanya.
Dedi juga mengutarakan fakta penting Jokowi-Ma'ruf kalah di Jawa barat. "Persepsi masyarakat Jawa barat tidak alami pergantian dari tahun 2014. Isu di sosmed (sosmed) menguasai pikiran penduduk Jawa barat yang memang akses infonya tinggi. Diserangnya sentimen agama, ini telah tiba ke ujung kampung," tutur Dedi.
Walau sebenarnya, lanjut Dedi, pihaknya telah kerja optimal untuk mengangkat perolehan nada Jokowi-Ma'ruf di Jawa barat, termasuk juga meluruskan beberapa info miring yang sering dialamatkan pada Jokowi ataupun Ma'ruf Amin. Tetapi, disadari Dedi, usahanya itu tidak lumayan mampu merubah pemikiran sejumlah besar masyarakat Jawa barat yang telah dipengaruhi politik jati diri itu.
"Ikhtiar politik telah optimal, mulai dari pembentukan pendapat, door to door ke penduduk. Saya juga turut terjun kampanye ke penduduk," tuturnya.
Baca juga : Jurusan di MERCUBUANA
"Bahkan juga, dari bagian hitungan politik atau program tanpa ada bicarakan infrastruktur, seperti PKH (Program Keluarga Keinginan) saja yang telah dialirkan pada 1,7 juta penerima faedah di Jawa barat tidak memberi dampak relevan," sambungnya.
Dedi memberikan, berkaitan sentimen agama pada Jokowi-Ma'ruf, figur calon wakil presiden Ma'ruf Amin yang terkenal menjadi seseorang ulama serta kiai juga nyatanya tidak cukuplah kuat menangkalnya.