Komisi Penentuan Umum (KPU) selalu lakukan proses perhitungan suara hasil Penentuan Umum (Pemilu) Serempak 2019. Sampai Minggu (12/5/2019) malam jam 19.00 WIB, proses perhitungan suara real count di Situng KPU suara masuk sampai 78,2% atau sekitar 636.131 dari 813.350 Tempat Pengambilan Suara (TPS) dengan nasional.
Dari jumlahnya itu, pasangan capres (Calon presiden) serta cawapres (Calon wakil presiden) nomer urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin masih unggul dengan pencapaian suara 56,28% sedang Paslon 02, prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 43,72%.
Sesaat beberapa wilayah sudah menyerahkan hasil penghitungan suara tingkat propinsi. Salah satunya Propinsi Gorontalo dimana Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dengan pencapaian suara 369.803 sesaat Prabowo-Sandi 345.129 suara. Keseluruhan suara resmi sekitar 714.932 serta suara tidak resmi 8.148 suara.
Baca juga : Jurusan di UPN JATIM
Sesaat Propinsi Kalimantan Tengah Jokowi-Ma'ruf memperoleh 830.948 suara serta Prabowo-Sandi cuma memperoleh 537.138 suara. Jumlahnya resmi 1.368.086 serta suara tidak resmi 33.612. Di Kalimantan Utara, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan pencapaian 248.239 suara serta Prabowo-Sandi 106.162 suara. Jumlahnya suara resmi sekitar 354.401 suara serta suara tidak resmi 4.840. Sesaat Propinsi Bali, Jokowi-Ma'ruf Amin menang mutlak dengan pencapaian 2.351.057 suara serta Prabowo-Sandi 213.415 suara. Jumlahnya suara resmi 2.564.472 serta suara tidak resmi 52.338.
Seterusnya Bangka Belitung, Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dengan pencapaian 495.729 serta Prabowo-Sandi 288.235 suara. Jumlahnya suara resmi 783.964 serta suara tidak resmi 22.927.
Lalu Propinsi Bengkulu, Jokowi-Ma'ruf Amin kalah tipis dengan pencapaian 583.488 suara serta Prabowo-Sandi mendapatkan 585.999 suara. Jumlahnya suara resmi 1.169.487 serta suara tidak resmi 26.862.
Paling akhir perhitungan suara yang sudah diberikan ke KPU yaitu Kalimantan Selatan dimana Jokowi-Ma'ruf memperoleh 823.939 suara serta Prabowo-Sandi unggul dengan pencapaian 1.470.163 suara. Jumlahnya suara resmi 2.294.102 serta suara tidak resmi 88.001.
Selain itu, dua propinsi di daerah Jawa yaitu Jawa Timur serta Jawa Tengah sudah lakukan rapat pleno tingkat propinsi, tetapi hasilnya belum direkapitulasi di KPU pusat. Dari rapat pleno tingkat propinsi, ke-2 propinsi di daerah Jawa itu dikuasai Paslon 01.
Di Jawa Timur, KPU ditempat memutuskan Paslon 01 jadi juara pemilihan presiden dalam rapat pleno terbuka perhitungan perhitungan pencapaian suara di Surabaya pada Sabtu (11/5/2019). Jokowi-Ma'ruf mencapai suara paling banyak dengan pencapaian suara 65,7% suara yakni sekitar 16.231.668 suara.
Paslon 01 unggul rata di hampir semua daerah. Sedang pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cuma menang di 6 kabupaten, dari 38 kabupaten serta kota. Paslon 02 itu memperoleh 34,2% atau seputar 8.441.247 suara.
Paslon 01 unggul mutlak di Propinsi Jawa Tengah dengan menyapu bersih kemenangan di semua kabupaten/kota. Jokowi-Ma'ruf dapat mencapai suara relevan sampai 77,29% atau sekitar 16.825.511 suara sedang Paslon 02 cuma memperoleh 22,71% atau sekitar 4.944.447 suara.
Sesaat di Jawa Barat sampai tempo hari proses perhitungan suara masih berjalan. Tetapi, dari Situng KPU didapati suara masuk dari Jawa barat sekitar 65,8% dengan kelebihan sesaat Paslon 02 sekitar 10.306.988 suara serta Paslon 01 memperoleh 7.275.681 suara.
Di DKI Jakarta proses perhitungan suara belum selesai. Dari Situng KPU didapati sampai semalam suara masuk sekitar 62,6%, dimana Jokowi-Ma'ruf unggul sesaat dengan pencapaian 2.084.178 serta Paslon 0p2 1.878.005 suara.
Wakil Ketua Team Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding menjelaskan, semenjak awal pihaknya yakini jika pencapaian suara Paslon 01 di Jawa akan menang mutlak di Jawa. Menurut dia ada banyak unsur hingga Jokowi-Kiai Ma'ruf kuasai pencapaian suara di Jawa yang mempunyai suara paling banyak nasional.
"Pertama jika di Jateng serta Jawa timur, dirangkulnya Kiai Ma'ruf serta NU itu satu unsur. Jadi bersatunya grup nasionalis serta religius yang diwakili NU itu memberi dampak relevan," tutur Karding.
Diluar itu, beberapa orang di Jawa lebih kenal bagian baik Jokowi baik jadi pribadi atau kepemimpinannya. "Sampai kini kepemimpinan Pak Jokowi ini kan begitu dirasa. Infrastruktur serta perhatian pada sekolah-sekolah, madrasah, pesantren, serta banyak. Diluar itu, di Jawa ini relatif rumor hoax masuk tetapi tidak relevan memberikan dampak," katanya.
Ke-3, kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini, beberapa tokoh elite di Jawa pada Pemilihan presiden 2019 rata-rata memberi dukungan Jokowi-Kiai Ma'ruf. "Kerja team maximum disana. Serta mungkin saja unsur sebab Jawa Tengah terserang, itu dampak sebab orang lalu kembali. Seperti di Solo serta Boyolali, itu kan kita terserang, justru menentang," katanya.
Karding yakini sampai akhir penghitungan suara kelak tidak akan alami banyak pergantian. Bahkan juga, dianya optimis pencapaian suara real count Paslon 01 tambah tinggi dari kalkulasi cepat (quick count).
Pengamat politik yang CEO Alvara Recearch Center Hasanuddin Ali menjelaskan sebaran suara terbanyak dapat disaksikan dari sepuluh propinsi yang masuk, khususnya suara dari daerah Jawa. Menurut dia, tidak hanya suara dari daerah Jawa, referensi yang dapat jadikan pegangan yakni suara masuk dari daerah DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, serta Kalimantan Selatan.
Baca juga : Jurusan di IKJ
"Jika propinsi lain dampaknya begitu kecil pada perubahan begitu suara nasional. Sepuluh propinsi itu yang dapat merubah," tuturnya.
Menurut Hasan, ada tiga unsur kunci yang jadi kelebihan Jokowi-Kiai Ma'ruf itu yakni, basis pemilih Jawa, NU, serta pemilih minoritas. Berlainan dengan hasil Pemilihan presiden 2014 yang tunjukkan Jokowi cuma menang tipis di Pulau Jawa, pada Pemilihan presiden 2019 kesempatan ini, Jokowi–Ma’ruf Amin unggul tebal di Jawa, walau untuk Jawa Barat, Prabowo-Sandi unggul. Tetapi, Jateng serta Jawa timur didominasi Jokowi-Ma'ruf.
"Data survey Alvara Research Center bulan Oktober-April 2019 tunjukkan kepopuleran Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin tetap diatas 58%, bahkan juga dekati 60%. Jawa betul-betul jadi lumbung suara buat pasangan Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin," lebih Hasanuddin Ali.
Kelebihan di Jawa jadi penting sebab pemilih di Jawa memberi 57,84% dari keseluruhan pemilih nasional.